SABTU, 10 SEPTEMBER 2016
BANYUWANGI — Di balik keindahan Gunung Ijen atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kawah Ijen, rupanya terdapat sebuah perjuangan yang besar dari warga sekitar untuk meraup rejeki dengan melakukan penambangan belerang di salah satu gunung merapi yang masih aktif di wilayah Jawa Timur tersebut. Meski harus menanggung resiko yang cukup besar terutama keselamatan, namun ratusan penambang belerang ini tetap terus menekuni pekerjaan yang sudah menjadi pekerjaan turun temurun.

Asnadi (35) salah satu penambang belerang mengaku sudah 20 tahun melakoni profesi tersebut. Meskipun beresiko besar, tetapi ia menganggap bahwa dibandingkan dengan yang lain, menjadi penambang belerang adalah satu satunya pekerjaan yang cepat menghasilkan uang.
Dalam seminggu Asnadi 3-5 kali melakukan penambangan belerang. Dengan menggunakan pakaian yang cukup tebal, sarung tangan dan lampu senter ia biasanya berangkat dari rumah pukul 24.00 WIB menuju lokasi penambangan. Dari Paltuding yang merupakan pintu masuk Kawah Ijen ia harus menempuh jarak tiga kilometer untuk sampai ke puncak dengan kondisi jalan yang menanjak.
Sesampai di puncak ia harus kembali menuruni lereng yang terjal menuju kawah, dimana lokasi tambang belerang tersebut berada. Dalam sehari Asnadi sanggup mengangkut belerang 2-3 kali, dengan berat mencapai 60-80 kg dalam sekali angkut.
“Kalau dalam kondisi fit, saya bisa mengangkut belerang sebanyak tiga kali dengan berat 60-80 kg sekali angkut. Tapi kalau kondisi badan tidak fit hanya mampu dua kali angkut,”ungkapnya.

Walau beban yang dibawa cukup berat dan harus melewati jalan yang berbahaya namun nyatanya belerang yang ia bawa hanya dihargai 900-1.000 Rupiah per Kilogramnya. Harga yang tentunya tidak sebanding dengan resiko yang mungkin bisa Asnadi alami.
“Meskipun hasilnya memang sedikit, tapi enaknya kerja disini sekali timbang langsung dapat uang. Jadi dapat uangnya bisa lancar setiap hari,”ujarnya.
Dari pekerjaannya tersebut, dalam sehari ia bisa memperoleh penghasilan sebanyak Rp.150-200 ribu.
Menurutnya, belerang-belerang tersebut setelah terkumpul oleh pengepulnya di bawa ke pabrik untuk dijadikan sebagai pemutih gula maupun bahan kosmetik.
“Belerang yang sudah padat juga bisa digunakan untuk mengobati penyakit kulit seperti panu maupun kadas dengan cara dioleskan,” jelasnya.
Selain di jual ke pengepul, belerang yang di peroleh biasanya juga dijadikan sebagai sovenir untuk di jual ke wisatawan dengan harga Rp. 5.000-10.000,- per buah.
“Biasanya belerang ini juga saya cetak dengan berbagai bentuk seperti kura-kura maupun bunga bunga untuk dijadikan sovenir,”terangnya.
Untuk menambah penghasilan, Asnadi biasanya juga menawarkan jasa angkut orang dari awal tempat pendakian hingga sampai ke puncak dan kembali lagi ke awal pendakian dengan tarif Rp.700 ribu.
“Uang Rp.700 ribu itu di bagi ke tiga orang, karena untuk mengangkut satu orang dibutuhkan tenaga tiga orang. Dua orang di depan untuk menarik dan satu orang lagi berada di belakang untuk mendorong. Kalau jasa angkut orang, hanya sebagai ceperan saja,”tandasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, jumlah penambang belerang di tempat ini cukup banyak sekitar 500 orang. Tetapi setiap hari biasanya yang menambang hanya 100-200 orang saja.

Meskipun sudah 20 tahun menjadi penambang belerang, namun ia mengaku bahwa sampai sekarang dirinya teidak pernah menderita penyakit yang serius. Agar terhindar dari gas beracun, dalam melakukan pekerjaannya, bapak dari satu orang anak ini juga tetap menggunakan masker untuk menghindari kemungkinan buruk.
“Saya tetap gunakan masker saat berkerja karena kalau tidak pakai masker saya tidak kuat baunya,”pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]