PSN tak Maksimal Sebabkan Tingginya Kasus DBD di Banyumas
Editor: Koko Triarko
PURWOKERTO – Memasuki minggu terakhir di bulan Januari, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas, terus meningkat. Saat ini, tercatat 23 warga Banyumas positif terkena DBD. Selain itu, sebanyak 108 orang terkena demam dengue (DD) dan tiga orang terkena dengue shock syndrome (DSS). Sebelumnya sampai dengan minggu kedua bulan Januari, pasien DBD hanya 20 orang, dan 15 orang yang terindikasi DBD.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Sadiyanto, mengatakan, DBD dan DD penyebabnya sama, yaitu karena terinfeksi virus dengue. Hanya bedanya, pasien DBD cenderung lebih parah kondisnya, karena disertai adanya kebocoran plasma, dan tingkat pengentalan darah menjadi tidak normal. Kondisi ini bisa menyebabkan kematian.
Sementara untuk pasien yang terdeteksi DSS, kondisinya virus sudah menyebar ke sel-sel darah. Pada tingkatan ini, kondisi pasien sudah akut dan harus segera ditangani pihak rumah sakit.
ʺDSS ini merupakan jenis demam berdarah yang paing berbahaya dan mematikan, pasien harus ditangani secara tepat dan cepat, dan mendapat perawatan intensif,ʺ jelas Sadiyanto, Selasa (29/1/2019).
Menurut Sadiyanto, meningkatnya kasus DBD ini, karena gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tidak dilaksanakan dengan maksimal dan berkualitas.
Ia mencontohkan, di lapangan Desa Pandak, Kecamatan Baturaden yang paling banyak dijumpai penderita DBD, banyak terdapat tumpukan bambu. Dan, saat PSN, hal tersebut luput dari perhatian warga.
Sementara itu, di Kabupaten Purbalingga, kasus DBD juga meningkat. Hingga minggu terakhir bulan Januari ini, ada 78 kasus DBD.
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Purbalingga, Aji Sumbodo, mengatakan, paling banyak penderita DBD di Kecamatan Padamara, ada 13 kasus, kemudian di Kecamatan Kalimanah 11 kasus, Kecamatan Kutasari dan Purbalingga masing-masing 9 kasus dan di Kecamatan Bojongsari 5 kasus.