Emas “Rebound” Setelah Catat Penurunan Terburuk dalam Tujuh Tahun
CHICAGO — Harga emas merangkak naik pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah kemarin mencatat penurunan terburuk dalam tujuh tahun terakhir, terkait data ekonomi yang suram memunculkan kekhawatiran atas perlambatan pandemi COVID-19.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, bangkit 2,7 dolar AS atau 0,14 persen menjadi ditutup pada 1.949,00 dolar AS per ounce. Emas berjangka anjlok 93,4 dolar AS atau 4,58 persen menjadi 1.946,3 dolar AS sehari sebelumnya (11/8/2020).
Emas berjangka juga terangkat 11,7 dolar AS atau 0,58 persen menjadi 2.039,70 dolar AS pada Senin (10/8/2020), setelah jatuh 41,4 dolar AS atau 2,00 persen menjadi 2.028,00 dolar AS pada Jumat (7/8/2020), berbalik daro kenaikan 20,1 dolar AS atau 0,98 persen menjadi 2.069,40 dolar AS pada Kamis (6/8/2020).
“Penurunan emas (Selasa) adalah koreksi yang sehat, ini memungkinkan lebih banyak orang untuk masuk, sehingga harga akan naik lagi dan pada akhir tahun kita akan melihat tertinggi baru sepanjang masa dengan emas mungkin 2.500 dolar AS per ounce,” kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.
“Kami memiliki semua faktor fundamental yang mendukung emas,” katanya. “Federal Reserve AS akan tetap dovish untuk jangka waktu yang lama, mereka telah mengatakan bahwa mereka akan membiarkan inflasi naik di atas target mereka.”
Langkah stimulus besar cenderung mendukung emas, yang sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu (12/8/2020) menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (IHK) naik 0,6 persen pada Juli, yang mendukung emas.