Budayawan: Mudik Menjadi Budaya, Mengembalikan Memori Kehidupan

Editor: Mamun Hidayat

JAKARTA — Budayawan Jakarta, Yahya Andi Putra mengatakan mudik saat perayaan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran memiliki makna mengembalikan memori kepada kehidupan kita.

“Mudik itu adalah budaya atau tradisi,  bagaimana memperbaharui memori kehidupan kita saat berkumpul bersama keluarga di hari yang fitri. Menghapus rasa rindu dan saling memaafkan,” ujar Yahya kepada Cendana News, saat dihubungi Minggu (16/5/2021).

Karena kata dia, tentu kita tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan kehidupan pada tahun-tahun yang akan datang.

“Kita yang Betawi sebenarnya nggak ada mudik. Tapi pemahaman saya, mudik itu memiliki makna bagaimana kembali ke dalam sesuatu yang kita mimpikan dalam hidup. Seraya kita mentransfer hati dan perasaan kita saat kumpul bersama keluarga, gembira dan bahagia,” ujarnya.

Dikatakan dia, tantangan berat yang dihadapi para pemudik tidak pernah menyurutkan niat untuk mudik ke kampung halaman.

Karena begitu kuatnya pengalaman keagamaan telah menjadi budaya. Mudik lebaran mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam.

Dimana di tengah kemajuan yang membawa manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu.

Namun melalui medium silaturahmi Idul Fitri dalam rangka hubungan manusia atau hablun minannaas tetap diamalkan. Bahkan telah menjadi budaya seluruh bangsa Indonesia.

Islam juga mengajarkan bahwa umat manusia  yang sudah berpuasa di bulan Ramadan akan diampuni dosa-dosanya di hadapan Allah swt.

Sedang dosa kepada orangtua, saudara atau kerabat serta tetangga, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahmi antara satu dengan yang lain.

Lihat juga...