Petani Jagung di Bantul Merugi Akibat Hujan Tidak Terprediksi

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA, Cendana News – Sejumlah petani di wilayah Bantul, Yogyakarta, harus menanggung rugi setelah mengalami gagal panen dan penurunan hasil produksi akibat salah memprediksi musim.

Prapto, salah seorang petani jagung di desa Caturharjo, Pandak, Bantul mengaku mengalami penurunan hasil produksi hingga 50 persen.

Hal tersebut karena tanaman jagung miliknya rusak setelah lahan pertanianya terendam limpahan air hujan.

“Hasil panen turun dari biasanya bisa mencapai 11 kwintal jagung, sekarang hanya 6-7 kwintal,” ujarnya.

Prapto mengaku mulai menanam jagung jenis 21 di lahan seluas 1.660 meter persegi sejak bulan Juni atau tiga bulan lalu.

Berdasarkan perhitungan kalender Jawa (pranata mangsa), bulan ke-4 (April) hingga bulan ke-9 (September) merupakan musim kemarau.

“Tapi, ternyata baru pertengahan bulan Agustus sudah turun hujan. Akibatnya, banyak tanaman jagung yang mati,” katanya.

Menurut Prapto, sebenarnya tanaman jagung tidak akan rusak dan mati jika hanya terkena hujan dengan intensitas rendah.

Jagung baru akan rusak dan mati jika lahan terendam air hujan dengan intensitas tinggi.

“Karena beberapa minggu terakhir ini hujan turun sangat lebat, bahkan hampir setiap hari, akibatnya limpahan airnya menggenangi sawah sehingga menjadi bacek,” ungkapnya.

Saat ini untuk mengantisipasi hujan susulan, Prapto membuat parit-parit kecil di tengah lahan pertaniannya.

Parit-parit kecil itu sebagai tempat pembuangan limpahan air hujan agar tidak menggenangi tanaman.

“Mudah-mudahan hujan belakangan ini hanya hujan kiriman saja. Sehingga sawah-sawah yang sudah terlanjur ditanami jagung tidak tergenang dan membuat gagal panen,” pungkasnya.

Lihat juga...